Activities

Komodo Dragon, Flores, Indonesia

Pulau KoModo: Menuju Tujuh Keajaiban Baru

oleh Erwin Y. Salim & Edward Luhukay

Pesawat Fokker-50 milik maskapai penerbangan Riau Airlines yang membawa Andreas, Iskandar, dan Hoon dari Denpasar, Bali, akhirnya mendarat di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tiga wisatawan asal Singapura itu tampak tak sabar ingin meninggalkan bandar udara kecil itu menuju Pelabuhan Labuan Bajo, yang hanya makan waktu sekitar 15 menit dari situ. Tujuan akhir mereka adalah Taman Nasional Komodo (TNK).

Padahal, dari Labuan Bajo, para wisatawan masih harus menghabiskan waktu empat jam di laut, sebelum tiba di TNK. Mereka adalah bagian kecil dari ribuan wisatawan asing dan domestik yang datang untuk menyaksikan salah satu kandidat “Tujuh Keajaiban Dunia” yang baru. Di sebuah kedai kecil tak jauh dari Pelabuhan Labuan Bajo, duduk santai Tamen Sitorus, Kepala TNK.

Ia menjelaskan secara singkat mengenai perjalanan laut yang harus ditempuh rombongan wisatawan asing dan domestik itu sebelum sampai ke Pulau Komodo. Selagi asyik bicara, tiba- tiba seorang anak buahnya menyela. “Pak, Al-Jazeera sebentar lagi datang di next flight,” katanya. Tamen tertegun sebentar, lalu balik menanyakan waktu kedatangan kru sebuah stasiun televisi nasional, yang dijawab singkat, “Besok”, oleh sang anak buah.

Gencarnya promosi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata demi meraih posisi “New Seven Wonders of Nature” membuat Tamen makin sibuk. Ia jadi sering diwawancarai wartawan berbagai media nasional dan asing. Promosi itu jugalah yang membawa artis sekaligus presenter cantik Olga Lidya terpilih sebagai “duta komodo”. Setelah menanti sekitar satu jam di kedai itu, kapal yang akan menyeberangkan rombongan ke Pulau Komodo akhirnya bersandar di Labuan Bajo. Condo Subagyo, seorang dive operator senior di kawasan tersebut, datang menghampiri rombongan. Pelaut itu hanya mengenakan kaus oblong putih polos, celana pendek, tanpa alas kaki, dan topi biru usang menutupi kepalanya.

Pantai Permai di Seberang Pulau Bidadari

Tamen segera menjelaskan kepada Condo seputar lokasi yang bakal disinggahi rombongan dari Jakarta dan Singapura itu. “Saya rasa, kita nggak perlu lama-lama, karena kita harus kejar dive sore di Pulau Bidadari,”
ujar Condo, 48 tahun, yang baru saja bersandar di Pelabuhan Labuan Bajo, setelah berhari-hari membawa sejumlah wisatawan asal Jepang.

Para turis “negeri sakura” itu banyak menghabiskan waktu di bawah laut, untuk melihat keindahan ikan manta ray di perairan yang tak jauh dari pulau yang diisi biawak-biawak besar tersebut.

Condo tercatat sebagai salah satu perintis wisata menyelam di perairan Kepulauan Komodo. Pulau pertama yang disinggahi rombongan itu adalah Pulau Bidadari. Pulau ini ditempuh hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Menurut Condo, pulau ini dulu bernama Pulau Bidari. Bagi para wisatawan yang gemar menyelam, penyelaman tak perlu dimulai dari tengah laut. Cukup berenang 10-15 meter dari bibir pantai, kita sudah sampai di perairan bening sedalam tiga meter.

Dengan modal kacamata renang dan corong pernapasan (snorkel), kita sudah bisa menikmati panorama kehidupan bawah laut yang indah. Condo rupanya sudah mahir betul memanjakan para tamunya. Sebelum masuk ke Loh (Teluk) Liang, gerbang masuk ke area TNK di Pulau Komodo, pria asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu lantas menunjukkan panorama nan permai.

Di seberang tempat berlabuh kapal layar phinisinya, tampak hamparan pantai yang indah di bawah sorotan matahari pagi. “Itu Pantai Merah. Turis-turis bule yang datang ke sini biasanya bilang itu pink beach,” tutur Condo.

Serpihan bukit merah-lah, kata seorang anak buah Condo, yang membuat warna merah di pantai tersebut. Serpihan bukit merah itu berada di balik pantai kecil. Warga setempat banyak yang percaya, pasir warna pink di pantai itu terdiri dari serpihan-serpihan koral dan cangkang hewan laut lainnya, sehingga berwarna kemerahan.

Loh Liang Pintu Masuk Pertama

Pantai-pantai eksotis yang bertebaran di taman nasional itu mampu memanjakan para penggiat wisata
alam bawah laut, baik dengan snorkel maupun diving. Penyelaman pada malam hari, menurut Condo, juga acap dilakukan sejumlah tamunya yang ingin menyaksikan kehidupan malam hewan laut di perairan yang tak jauh dari Pantai Merah. Kekayaan kehidupan bawah laut pada malam hari terbukti mampu memikat banyak penyelam.

Loh Liang merupakan pintu utama untuk masuk ke objek wisata utama, yakni komodo. Menurut Tamen, sekitar 1.100 ekor komodo mendiami pulau utama dari TNK, yang terdiri dari tiga pulau besar: Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar.

Sebagai pintu masuk utama untuk melihat langsung spesies kadal terbesar di dunia itu, Loh Liang tampak memiliki berbagai fasilitas bagi para wisatawan ketimbang pulau-pulau yang lain. Akomodasi di Loh Liang cukup lengkap. Ada beberapa guest house yang mampu menampung puluhan pengunjung.

Loh Liang juga memiliki jalur- jalur khusus bagi turis yang ingin berjalan kaki menyusuri pulau. Jalur ini pun terbagi lagi menjadi short trek, medium trek, long trek, dan adventure trek. Dalam beberapa menit berjalan ditemani seorang pemandu atau ranger, pengunjung bisa melihat kadal-kadal raksasa itu. Tak hanya komodo, di kawasan konsesi wisata yang dikelola PT Putri Naga Komodo ini, kita juga bisa melihat rusa, babi hutan, dan keanekaragaman flora serta panorama alam khas TNK.

Setelah perjalanan singkat, kami beristirahat di sebuah kafe, tak jauh dari pintu masuk utama Loh Liang. Di lokasi ini, sedikitnya tampak lima hingga enam ekor komodo berkeliaran bebas, seolah ingin berbaur dengan manusia. Sejumlah penjaga di Loh Liang mengatakan, kawanan komodo yang berkeliaran di pos-pos utama pulau itu adalah komodo “manja” yang malas mencari makanan.

Kebanyakan dari hewan itu memilih singgah ke pos-pos utama lantaran mencium bau makanan yang dimasak atau makanan sisa. Tapi, selama bersantai di kafe itu, para pengunjung tetap saja harus mewaspadai hewan besar yang memiliki reputasi mematikan itu. Walau sangat jarang menyerang manusia, ada saja satu-dua orang yang dikabarkan jadi korban hewan ini dalam tiga tahun terakhir.

Binatang Purba Sahabat Manusia

Di salah satu sudut pintu keluar pulau, terdapat pasar kecil, layaknya sebuah pasar kaget. Kios-kios dadakan itu dibangun untuk tempat menjajakan cenderamata khas pulau tersebut, seperti kerajinan patung komodo. Harganya lumayan mahal. Sebuah patung komodo ukuran sekitar satu meter dijual Rp 800.000. Para penjaja kerajinan ini pun berani menyodorkan harga dolar kepada para turis bule yang singgah menawar aneka kerajinan itu.

Kawasan lain yang menarik dikunjungi adalah Desa Komodo. Jika menggunakan speed boat, waktu tempuh ke desa itu kurang dari satu jam dari Loh Liang. Ini merupakan perkampungan dengan jumlah penduduk terbesar di Kepulauan Komodo. Kampung ini masuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Desa yang terdiri dari Dusun 01 dan Dusun 02 itu dihuni 380 kepala keluarga, meliputi 1.380 jiwa. “Mata pencaharian warga di sini tak terlalu banyak. Cari ikan dan ada beberapa yang menjadi perajin patung-patung komodo,” tutur Adam, Kepala Desa Komodo.

Warga desa ini, kata Adam, percaya bahwa komodo adalah leluhur mereka. Menurut pria yang sudah dua tahun menjabat sebagai orang nomor satu di Desa Komodo itu, sebelum manusia, komodo telah ada di pulau itu. Bahasa sehari-hari di pulau itu pun disebut “bahasa Komodo”, campuran antara bahasa Manggarai, Bima, Bugis, dan Bajo.

Adam pun mengisahkan, keberadaan komodo sulit dipisahkan dari manusia-manusia yang ada di kampung itu. “Kami dengan komodo itu saudara,” ujarnya. “Sejarahnya itu ada. Kami dengan komodo itu sebai (kembar), sebelah manusia, sebelah komodo,” kata pria berusia 42 tahun itu.

Itu sebabnya, di Desa Komodo, biawak besar yang dilindungi ini lebih dikenal dengan sebutan sebai atau ora. Adam memastikan, meski pernah mencuat cerita-cerita tentang komodo yang memangsa manusia, ia memastikan bahwa komodo dan manusia mampu hidup berdampingan di desanya.

Sebagaimana diungkapkan Adam, salah satu mata pencaharian masyarakat Desa Komodo adalah membuat kerajinan patung komodo. Penghasilan mereka bergantung pada wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung ke Loh Liang. Ada tiga tipe patung dengan harga berbeda. Harga patung sepanjang 1 meter dipatok Rp 800.000, yang 1,5 meter dihargai Rp 1,5 juta, sedangkan yang 2 meter Rp 2 juta.

Yang Luput dari Perhatian Pemerintah

Seorang warga perajin bernama Abdul Rachman mengaku menggeluti kerajinan patung komodo itu sejak 1982. “Kami feeling saja membuat patung komodo ini karena gampang. Dari kecil dan hampir setiap hari, saya lihat binatang ini,” kata kakek empat cucu itu. Pengerjaan satu patung komodo bisa makan waktu hingga satu minggu.

Abdul Rachman terbilang salah seorang yang mahir dalam hal kerajinan ini, setelah mengikuti pendidikan singkat di Bali dan pernah mengikuti berbagai lomba perajin di Jakarta. Perkakas yang digunakannya tampak sederhana: sebilah golok, kikir, gergaji, dan semir sepatu untuk mengilapkan dalam proses pemolesan akhir.

Namun, menurut Adam, gema TNK ke berbagai belahan dunia tidak otomatis seiring dengan laju peningkatan perekonomian masyarakat Desa Komodo. “TNK punya andil besar bagi kemajuan masyarakat kami. Mereka (TNK) harus punya perhatian terhadap masyarakat di sini,” kata Adam.

Banyaknya turis yang datang ke TNK belum kunjung berbuah manis buat mereka. Pemberdayaan sumber daya manusia maupun pemasaran hasil karya dari desa itu, menurut Adam, luput dari perhatian pemerintah setempat, pemerintah pusat, maupun pengelola TNK. “Turis banyak datang, tapi kami masih hidup primitif. Tolong dong kami juga diperhatikan,” ujarnya.

Lain lagi cerita Tamen Sitorus. Menurut Tamen, pengembangan TNK akhir-akhir ini mulai memperlihatkan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat. Tamen yakin, perputaran roda ekonomi yang dibangun dari industri pariwisata TNK, perlahan tapi pasti, telah dimulai dari kesadaran masyarakat setempat akan pentingnya TNK bagi kehidupan mereka. “Dampak pengembangan wisata komodo terhadap Labuan Bajo sudah terlihat jelas, kok,’’ katanya.

Ia memberi gambaran, pembangunan hotel-hotel baru di Labuan Bajo bakal menyerap tenaga kerja. Selain itu, banyak orang di Labuan Bajo yang kini juga berprofesi sebagai pemandu wisata. Money changer pun mulai bermunculan. “Mudah- mudahan ini bisa berkembang lebih pesat. Uang sudah ada di depan mata. Sekarang tinggal bagaimana kita mengelolanya,” kata Tamen.

Lokasi lain yang tak kalah menarik adalah Pulau Rinca. Pintu masuk ke lokasi ini berjuluk Loh Buaya. Untuk sampai ke lokasi ini dari perairan sekitar Loh Liang menggunakan kapal kayu phinisi milik Condo, dibutuhkan waktu lebih dari dua jam. Jumlah komodo di pulau ini sekitar 1.300 ekor. Menurut Tamen, jumlah itu yang terbanyak di antara empat kawasan lainnya yang dihuni hewan purba ini.

Di Loh Liang terdapat sekitar 1.100 ekor komodo, sedangkan Gili Motong dan Nusa Kode ditaksir tinggal dihuni 50 ekor komodo. Sama seperti di Loh Liang, berbagai fasilitas bagi para penjaga maupun para wisatawan yang berkunjung merupakan hasil kerja sama pelestarian alam komodo antara The Nature Conservacy dan TNK, yang dikelola PT Putri Naga Komodo.

Petugas Juga Diserang Komodo

Berbagai pemandangan serupa dengan di Loh Liang kembali kami temukan di Loh Buaya. Kami harus memilih paket perjalanan (trekking) yang telah disiapkan para penjaga TNK. Kawanan komodo juga tampak berkeliaran di bawah rumah panggung yang menjadi pos-pos utama penjaga Pulau Rinca. Pihak TNK tengah membangun beberapa guest house bagi para pengunjung, mengingat pulau ini menawarkan eksotisme alam gabungan antara kawasan pegunungan dan laut.

Pada saat kami berkunjung ke pulau di sebelah barat Pulau Flores itu, Loh Buaya baru saja gempar. Main, seorang pegawai administrasi yang bertugas di Loh Buaya, jadi korban serangan komodo. Pria berbadan kurus berusia 45 tahun yang telah bekerja di TNK selama 26 tahun itu digigit seekor komodo muda di depan ruang kerjanya.

Walhasil, tumit kiri dan lengan kanan Main tak luput dari gigitan hewan seukuran paha orang dewasa yang dilindungi itu, sehingga harus dilarikan ke puskesmas di Labuan Bajo. “Saya mau pukul, lalu gerak cepat, salah. Saya mau gerak lambat, juga salah. Badan lemas, mata kunang-kunang, dan saya hanya bisa lari berlindung di atas lemari,” katanya mengenang peristiwa itu.

Namun, sayang, karena keterbatasannya, puskesmas di kawasan terdekat dari Pulau Rinca itu tak sanggup menangani luka-luka yang diderita Main. Bapak dua anak ini lantas diterbangkan ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, untuk penyembuhan lebih lanjut. Lengan kanan yang luka-luka akibat gigitan mendapatkan 25 jahitan, sedangkan 30 jahitan kini berbekas di kaki kiri Main.

Sambil membuka buku administrasi yang dipenuhi bercak darah dari pergulatannya dengan komodo itu, Main mengaku bahwa dia tak kapok bekerja berdampingan dengan komodo. “Kapok, ya tidak! Saya sudah 26 tahun di sini. Saya cuma berprinsip bahwa itu hari sial saya. Komodo itu tidak setiap hari gigit kita,” tutur pria yang kini sehari-hari memilih untuk terus membawa tongkat penghalau komodo itu.

Keterbatasan Ketika Turis Meningkat

Selain wisata reptil dan menyelami alam bawah laut di perairan Kepulauan Komodo, kawasan TNK juga memiliki pemandangan unik menjelang dan pada saat matahari terbenam. Di sini kita bisa mengamati juga aktivitas koloni kelelawar yang cukup banyak di dua pulau lainnya. Istilah “Flying Fox” menjadi nama sebuah pulau kecil tak jauh dari Desa Komodo dan Loh Liang, yang dijadikan salah satu lokasi pengamatan koloni kelelawar.

Pada saat yang sama, Pulau Kalong, yang berjarak tempuh sekitar 30 menit dari pintu masuk Loh Liang, juga menjadi lokasi langganan bersandar berbagai kapal yang berisi turis mancanegara. Di dua tempat ini, pengamatan menarik dilakukan pada saat sore hari, ketika kelelawar mulai keluar untuk mencari makan. Dengan pesona dan kekayaan alam yang ada di TNK, ditunjang dengan promosi yang dilakukan, masuk akal jika jumlah wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini terus bertambah. Menurut catatan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Provinsi NTT, pada November 2009, jumlah turis yang datang lewat laut dan darat sekitar 7.000 orang. Sepanjang Desember 2009, ada 80 kapal yang merapat di Pelabuhan Labuan Bajo, membawa sekitar 17.000 wisatawan.

Sayang, pesatnya peningkatan jumlah pengunjung itu tidak segera diimbangi dengan percepatan pembangunan infrastruktur. Sebut saja, fasilitas penginapan yang kini ada belum mampu menampung ledakan jumlah wisatawan. Demikian juga jadwal penerbangan ke wilayah itu, belum dikembangkan seiring dengan keterbatasan sarana bandar udara yang hanya mampu didarati pesawat kecil karena landasan pacunya terhitung pendek.

Belum lagi keterbatasan sumber daya manusia yang mengelola TNK. Tamen mengaku, dari segi jumlah personel memang sudah memadai. TNK memiliki 102 orang staf, 60 di antaranya adalah staf lapangan. Tapi, sebagai pelaksana ekosistem hutan untuk menunjang perlindungan, pelestarian, dan pengamanan TNK, kualitasnya belum memadai. “Dari sisi jumlah sudah pas. Namun dari sisi kualitas masih kurang. Padahal, kami ini untuk konsensi internasional,” katanya.

Dari sisi kualitas, Tamen mengakui perlunya peningkatan kemampuan para stafnya. Meski demikian, dengan jumlah 60-an itu, staf lapangan yang juga bertugas sebagai polisi kehutanan masih kewalahan menghadapi perusakan hutan atau pengeboman ikan di taman nasional dengan cakupan wilayah total seluas 1.817 kilometer persegi itu. “Ini
kita belum bicara bagaimana pola pengelolaan wilayah yang sudah termasuk world heritage. Padahal, TNK ini sudah masuk dalam World Heritage Convention,” ujar Tamen.

Pria asal Sumatera Utara yang telah menghabiskan empat tahun terakhirnya di TNK itu juga mengakui munculnya masalah-masalah klasik, seperti kebakaran hutan atau perburuan satwa langka, di TNK. Sejumlah polisi hutan masih dibutuhkan untuk meminimalkan perburuan rusa atau pembakaran hutan.

Namun, Tamen optimistis, sinergi berbagai program sejumlah kementerian dalam mendongkrak TNK menjadi salah satu keajaiban dunia mampu mendorong perhatian masyarakat untuk meminimalkan aksi perusakan di TNK. “TNK ini merupakan taman nasional yang berbeda dibandingkan dengan taman nasional lainnya. TNK bisa dibilang taman nasional berkelas internasional,’’ katanya.

Upaya meningkatkan citra Pulau Komodo agar terpilih menjadi salah satu dari New Seven Wonders of Nature memang perlu penanganan terintegrasi. Bukan sebatas peningkatan promosi, melainkan juga kesiapan di semua bidang. Apalagi setelah terkabar bahwa posisinya melorot ke posisi ke-11 setelah sempat menduduki peringkat kesembilan.